Flores Trip part. 01

Hai semua!!

Kali ini aku mau bercerita tentang Flores trip yang beberapa waktu lalu aku ikutin. Kebetulan itinerary kami di Flores hanya di kota Maumere, Ende dan Labuan Bajo karena kami hanya punya 1 minggu (dari tgl 14 Agustus 2016 – 21 Agustus 2016) untuk cuti hehehehe.. Maklumlah orang kerja dan biaya pun belum mencukupi kalo keliling semua tempat di pulau Flores yang super indah ini. Total pengeluaran selama trip ini +/– Rp 5juta (kami berangkat dari Kupang NTT dan pulang juga ke Kupang lagi), tapi ini belom termasuk biaya oleh oleh yak..

Oya karena ceritanya lumayan panjang, jadi aku bagi 2 sesi ya 🙂

Hari Pertama (Minggu)

Kami berangkat dari Kupang menuju Kota Maumere pk.12.40 WITA dengan menggunakan pesawat NAM air namun karena delay, jadi kita mulai terbang jam 14.20 WITA dan tiba di bandara Frans Seda Maumere jam 15.00 WITA. Kamipun langsung menuju ke hotel untuk taruh barang. Kebetulan kami menginap di hotel Sylvia Maumere (hotel bintang 3, dekat dengan terminal) dengan harga 1 kamar Rp 300rbuan yang kami dapat dari traveloka. Setelah selesai taruh barang, kami langsung menuju Tanjung Kajuwulu. Oh ya sebelumnya kami menyewa mobil (avanza) beserta sopirnya (Rp 600rb/ hari – ini harga emang sebagian besar segini, disini suit cari lebih murah lagi).

Kami sampai di Tanjung Kajuwulu kurang lebih jam 4an. Di Tanjung, kita harus mendaki +/- 388 anak tangga untuk mencapai pemandangan yang indah. Dan diatas puncak anak tangga terakhir ada salib besar disana. Anak tangga ini katanya sih dibangun sama TNI beberapa waktu lalu. Kalo mo ke Tanjung Kajuwulu ini baiknya emang pas jam sunset (jam 4-5 sore) karena pemandangannya keren banget. Setelah dari Tanjung, kami turun gunung sekitar jam 6 kurang (pokoknya sebelum gelap lah) lagi buat makan malam sekalian ketemuan ama teman. Rencana awal sih kita mau makan di Coconut Garden (tempatnya instagramable gitu), tapi setelah 1.5jam perjalanan dari Tanjung, sampe disana malah ditutup karena uda diresevarsi orang. Akhirnya kami balik ke kota dan makan di Resto Ikan Bakar Jakarta. Setelah selesai dinner, akhirnya kita balik ke hotel dan bobo~~

Hari Kedua (Senin)

bukit-nilo-1

Patung Bunda Maria

Setelah selesai makan pagi, kami langsung check out dari hotel dan barang bawaan kami di taro semua di mobil. Jam 07.30 WITA, kami langsung jalan ke bukit Nilo, yang disana ada patung bunda Maria raksasa yang dibangun sama orang Italia.

bukit-nilo-2

Taman Bukit Nilo

Perjalanan dari hotel ke bukit Nilo +/- 45 menit dengan jalan yang cukup berkelok kelok. Sesampainya disana, kami berdoa dan lihat (+ poto2) sekeliling, setelah itu kami langsung turun lagi untuk melanjutkan ke Lepolorun.

Lepolorun adalah tempat pembuatan baju adat (Kain tenun ikat). Sepertinya tempat ini sering dikunjungi oleh turis baik luar atau dalam, sehingga bila kita akan berkunjung kesini sebaiknya telpon dulu untuk pastiin buka atau tidak (dan untuk disediakan konsumsi hehehe). Begitu kami sampai Leoplorun, kami disambut dengan pertunjukan musik tradisional dari pekerja (yang semuanya ibu ibu) Lepolorun. Sungguh pas lihat itu, kami semua terharu, apalah artinya kita yang cuma 6orang ini disambut segitu meriahnya. Setelah pertunjukan musik selesai, pemimpin dari Lepolorun itu mengajak kami untuk lihat proses pembuatan kain tenun mulai dari tanaman kapas yang baru dipetik, kemudian dikeringkan dan dipintal menjadi benang, yang setelah itu dibuat motif dan warnai dengan warna alam serta sintetik, baru setelah itu dikeringkan dan disusun ulang untuk ditenun benar benar menjadi kain tenun ikat. Jujur, aku sih takjub banget dengar penjelasan dari si ibu Lepolorun ini, karena ga cuma penjelasan tapi juga dipraktekan (cocok banget buat dijadiin film dokumenter gitu). Setelah itu kami lihat pakaian + kain yang siap untuk dibeli.. sebelumnya kami pakai pakaian kain tenun ikat yang sudah jadi buat foto foto. Oh ya ternyata di Lepolorun sini juga ada homestay. Biasanya turis mancanegara menginap disitu untuk mempelajari cara cara pembuatan kain tenun ini loh. Untuk membeli barang di sini perlu uang cash, atau transfer via e banking/ mobile banking (ga ada gesek kartu kredit/debit).

Selesai berbelanja di Lepolorun, kami menuju ke Gereja Tua Sikka (searah ke pantai Paga) untuk lihat lihat. Dan gerejanya baru dipugar lagi, jadi bagus dan bersih, apalagi kalo masuk ke dalam gereja itu adem banget walopun ga ada AC ato kipas karena atapnya itu tinggi dan jendelanya juga lebar jadi angin bebas masuk, apalagi ternyata gereja ini letaknya di pinggir pantai. Setelah selesai dari Gereja Tua Sikka, kami makan siang di warung makan dengan pemandangan laut (lupa nama restonya apa) yang terletak di pantai Paga. Karena saat itu matahari lagi terik teriknya, kami jadi agak malas main di pantai itu (walopun banyak bulenya loh distu hahahah~). Karena lagi malas gerak, kami cari cari di Instagram pantai Paga yang bagus itu dari sisi mana. Akhirnya kami diantar ke ujung pantai Paga, yang ada bukit dan patung Yesus diatasnya, letaknya dipinggir jalan. Jadi kami turun dari mobil dan jalan ke atas bukit. Sebaiknya sih pake sendal gunung karena ini bukitnya sebagian besar tanah kering, dan agak licin kalo pake flat shoes ato sendal jepit (kayanya sih kalo abis hujan susah untuk mendaki bukit ini). Perjalanan untuk sampe ke bukit ga lama kok cuma sekitar 5 menitan (yah 10 menitlah kalo capek cepet2). Sesampainya diatas bukit, kami disuguhkan pemandangan yang super keren oleh Maha Pencipta. Laut biru dengan gradasi warna yang indah ditambah dengan hiasan kapal kapal yang sedang berlabuh menyegarkan mata kita. Saat itu matahari lagi terik teriknya, dan kami lupa pake sunblock, jadi kami tidak berlama lama diatas bukit, karena kulit kami mulai perih. Hanya foto foto sebentar akhirnya turun lagi dari bukit dengan super hati hati karena licin..

Perjalanan berlanjut ke Pantai Koka. Letaknya pantai Koka ini masih satu jalan dengan pantai Paga, namun aku lupa berapa lama perjalanan kesana. Karena kami tidak bermain di pantai Paga, akhirnya kami menghabiskan waktu kami di pantai Koka, sekitar 2.5jam kami bermain di Pantai Koka. Di Pantai Koka ini juga lumayan banyak bule, ada homestay juga loh. Saat kami baru tiba di pantai Koka matahari masih super terik, kami isitirahat dulu di pendopo/gazebo yang ada di pinggir pantai sambil menikmati air kelapa. Berbeda dengan orang bule yang jam segitu memanfaatkan waktu buat tanning, kita malah berteduh di pendopo karena takut menghitam. Begtu matahari sudah tidak terlalu panas, akhirnya kami mulai bermain di pantai. Pantai Koka ini ternyata luas dan pasirnya itu putih dan halus, jadi ga sakit kalo lepas sepatu. Ahirnya kami menghabiskan waktu disini dengan main pasir, foto foto, serta duduk merenung menatap indahnya laut. Ohya disini bisa naik perahu juga ke pulau Koka, pulau kecil di sebelah kiri pantai, cuma harganya ga tau berapa karena kami ga kesana.

Sekitar jam 16.00, kami mulai melanjutkan perjalanan langsung ke Ende. Perjalanan ditempuh kurang lebih 3 – 4 jam, dengan jalan berkelok kelok. FYI, jalan dari Maumere ke Ende ini rawan longsor. Oya untuk sampe di kota Ende, kami juga melewati Desa Moni, desa yang dengan gunung Kelimutu. Saran saya sih, kalo mo mendaki Gunung Kelimutu, mending menginap di Desa Moni. Sayangnya kami sudah terlanjur pesan hotel di Kota Ende, jadi kami harus bolak balik dari menghabiskan waktu dijalan untuk Gn. Kelimutu besok pagi. Di kota Ende, kami menginap di hotel King (hotel bintang 1, bentuknya ruko gitu, dapat dari traveloka dengan harga Rp 150rb/kamar, dekat dengan pasar juga). Setiba di Kota Ende, kami makan malam di Resto baru namanya KaQ Lima dekat dengan bandara. I think its recommended, tempatnya cozy, simple dan makanannya enak harganyanya pun sesuai.

Hari ketiga (Selasa)

Pagi pagi subuh buta kami sudah bangun karena kami mau mengejar sunrise di Gn. Kelimutu. Kami berangkat jam 03.30 WITA dari kota Ende menuju Gn. Kelimutu. Selama perjalanan kami tidur karena masih ngantuk. Kami tiba di Gn. Kelimutu kurang jam 05.10 WITA. Tiket masuk ke Gn. Kelimutu Rp 20ribu/ orang, serta kami disuruh isi buku tamu. Walopun langit sudah mulai sedikit agak terang, tetap disarankan bawa senter karena masih untuk mendakinya itu masih gelap. Untungnya jalanan menuju puncak Gn. Kelimutu itu sudah berupa tangga, jadi ga terlalu takut licin seperti kemarin mendaki di bukit Paga. Ohya, udaranya super dingin ya, jadi disaranin pake baju panjang/sarung tangan (walopun nanti setelah sampe puncak bisa buka baju karena kepanasan sudah mendaki ratusan anak tangga). Yup, kami berusaha mendaki secepat mungkin untuk sampe di puncak supaya ga ketinggalan sunrise. Setelah sampai di puncak, ternyata sudah banyak orang disana, dan untungnya sunrise belum lewat. Sekitar jam 06.00, matahari mulai muncul ke permukaan, dan kami menikmati pemandangan itu. Setelah waktu sunrise sudah agak lewat sedikit, kami mulai beraksi foto foto dengan bendera merah putih yang sengaja kami bawa karena besok bertepatan dengan 17 Agustus.

Ternyata ide membawa bendera ga cuma dari kami, banyak juga kelompok yang lain membawa bendera. Ditengah kami sedang asik fotofoto, ada turis mancanegara meminta kami untuk menyanyikan lagu ulang tahun untuk temannya sambil di videoin. Setelah itu tercetuslah ide untuk mebuat video sambil menyanyikan lagu nasional dan mengibarkan bendera merah putih. Ya dengan tebal muka kami menyanyikan lagu Indonesia tanah air beta sambil di videoin. Banyak orang yang mulai datang ngeliatin kami, gugup juga ya uda kaya konser hahahah… setelah selesai bernyanyi, banyak orang yang bertepuk tangan dan memuji kami ini keren hehehehe… ya setelah acara foto + bikin video untuk 17agustusan selesai akhirnya kami mulai duduk santai menikmati alam sambil makan popmie. Satu persatu orang dipuncak mulai sedikit. Kami akhirnya turun sekitar jam 09.00an, sambil jalan santai mampir melihat danau Kelimutu dari dekat. Setelah lihat semua danau Kelimutu, kami pun berniat untuk pulang. Di tengah jalan, ada pertigaan dan tulisan kearah sumber mata air lewat tangga. Karena rasa penasaran kami muncul, akhirnya kami turun tangga mencari tau dimana sumber mata air. Tangganya itu tinggi2 dan banyak pula, turunnya aja udah capek, apalagi naeknya nanti. Karena kita optimis udah dekat dan biasanya bagus, akhirnya kami turunin 350 anak tangga menuju Mata air, namuuunnn ternyata tangganya berhenti diengah2. Memang ada sih suara pancuran air, tapi ga sesuai bayangan kita. Tapi sepertinya tempat itu cocok buat semedi deh, soalnya hutannya rindang dan terdengar suara burung disertai pancuran air, cocok banget buat meditasi hahahaha………… Ya, akhirnya kami balik keatas menaiki 350 anak tangga dengan tebal tiap anak tangga 20-30cm.

Sekitar jam 10.30 WITA kita mulai melanjutkan perjalanan ke kota Ende lagi. Setiba disana kami makan siang di restoran (lupa namanya) tapi ga tertlalu worth it sih. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Rumah Pengasingan Bung Karno saat di Ende. Rumahnya ini sudah sering kali dipugar, jadi nampak baru terus. Ini semacam museum mini gitu, ada penjelasan ditiap barang yang bersejarah. Kami hanya lihat lihat sebentar sekitar 20 menitan disana, jadi setelah itu kami pulang ke hotel karena batas penyewaan mobil kami sudah selesai (kami menyewa mobil dari Maumere sampai ke Ende dengan mobil dan sopir yang sama dengan total harga Rp1.8jt untuk 3 hari). Karena itu masih siang, kami gatau mo ngapain dan juga ga ada kendaraan akhirnya muter muter lihat souvenir di dekat hotel. Malam harinya kami dijemput oleh teman kami nongkrong cantik di Mocca Caffe, kafe yang baru buka semingguan. Harga makanan dan minumannya pun masih setengah harga (minuman latte + donat 1 cuma Rp 15ribu) rasanya enak, plus wifi gratis. Buat makan beratnya, kami makan nasigoreng tektek di warung pinggir jalan. Rasanya mengobati rasa kangen nasgor tektek karena uda 1 tahun ga makan itu hahahaa~

Nah sekian cerita dari flores trip part 1. Nantikan flores trip part 2nya yaitu part Labuan Bajo yang lebih keren lagi. Terima kash sudah membaca.

Advertisements